Menakar Denyut Riset Para Akademisi: LPPM UIN Sunan Kalijaga Monev MORA-AIR Funds Program
Yogyakarta, 25 September 2026 — Sebuah penelitian tidak selesai ketika proposal disetujui. Ia justru memasuki fase yang menentukan ketika gagasan harus dibuktikan melalui proses, data, temuan, dan keluaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Atas dasar itu, LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) Ministry of Religious Affairs – The Awakened Indonesia Research Funds Program pada 23–25 September 2026 di Ruang Rapat Lantai 2 LPPM UIN Sunan Kalijaga.
Monev ini menjadi forum untuk melihat secara langsung perkembangan penelitian yang tengah dijalankan oleh para penerima Ministry of Religious Affairs – The Awakened Indonesia Research Funds Program. Sejumlah akademisi UIN Sunan Kalijaga yang menerima program tersebut mempresentasikan progres penelitian mereka untuk memperoleh masukan, catatan, sekaligus evaluasi dari reviewer. Para penerima program tersebut antara lain Dr. Astri Hanjarwati, S.Sos., M.A.; Dr. Ro’fah, S.Ag., BSW., M.A.; Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, M.A., Ph.D.; Prof. Syafaatun Almirzanah, Ph.D.; Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., M.A., Ph.D.; serta Dr. Suhadi, M.A.
Proses evaluasi menghadirkan reviewer dari sejumlah perguruan tinggi. Dr. Edi Ramawijaya Putra, M.Pd. dari Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya melakukan review terhadap progres penelitian yang dipresentasikan penerima program. Reviewer lainnya adalah Prof. Dr. S.F. Luthfie Arguby Purnomo, S.S., M.Hum. dari UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M.A. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta Prof. Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd. dari UIN Sunan Kudus.
Forum tersebut tidak semata-mata menjadi ruang untuk memeriksa apakah penelitian telah berjalan sesuai rencana. Lebih dari itu, monev menjadi arena akademik untuk menguji ketajaman metodologi, perkembangan temuan, relevansi penelitian dengan tujuan program, serta potensi keluaran yang dihasilkan. Masukan reviewer diharapkan dapat membantu para peneliti memperkuat riset mereka sebelum memasuki tahapan berikutnya.
Kehadiran reviewer dari berbagai perguruan tinggi juga memberikan dimensi eksternal dalam proses evaluasi. Perspektif dari luar institusi memungkinkan penelitian dilihat secara lebih objektif, sekaligus membuka ruang dialog akademik yang dapat memperkaya arah dan kualitas penelitian. Dengan mekanisme tersebut, proses monev tidak berhenti sebagai kewajiban administratif, tetapi menjadi bagian dari penjaminan mutu penelitian.
Bagi LPPM UIN Sunan Kalijaga, agenda ini menjadi bagian dari upaya membangun tradisi penelitian yang berbasis pada kualitas, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Setiap penelitian yang memperoleh dukungan pendanaan dituntut menunjukkan progres yang terukur sekaligus menghasilkan keluaran yang memiliki nilai akademik dan kemanfaatan yang lebih luas.
Tiga hari proses monitoring dan evaluasi itu pada akhirnya menjadi semacam ruang uji bagi gagasan-gagasan penelitian yang sedang dikembangkan para akademisi. Proposal telah menjadi penelitian, penelitian sedang bergerak menjadi temuan, dan temuan kelak dituntut menjelma menjadi pengetahuan yang dapat memberi arti. Di titik itulah, Ministry of Religious Affairs – The Awakened Indonesia Research Funds Program menemukan relevansinya: memastikan dukungan terhadap riset berjalan beriringan dengan kualitas proses dan pertanggungjawaban akademik.