KKN UIN SUNAN KALIJAGA DORONG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF WARGA KLEPU, GUNUNGKIDUL MELALUI PELATIHAN BATIK JUMPUTAN
Gunungkidul, 10 Agustus 2026 — Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan 120 melaksanakan kegiatan pelatihan batik jumputan sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat di Padukuhan Klepu, Kalurahan Giriasih, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026, pukul 13.00–15.00 WIB tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN dalam mendorong penguatan kapasitas masyarakat melalui pengembangan keterampilan kreatif, pemanfaatan potensi lokal, serta pengenalan alternatif kegiatan ekonomi produktif.
Pelatihan batik jumputan merupakan salah satu program kerja KKN UIN Sunan Kalijaga Angkatan 120 yang diarahkan pada pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Pemilihan batik jumputan didasarkan pada karakteristik teknik produksinya yang relatif sederhana, dapat dipelajari oleh berbagai kelompok masyarakat, serta memiliki ruang kreativitas yang luas dalam menghasilkan motif dan kombinasi warna. Dengan karakter tersebut, batik jumputan memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai aktivitas kerajinan, tetapi juga sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur Masyarakat, berbagai perngkat desa seperti Dukuh, RW, kelompok PKK, serta warga masyarakat. Keterlibatan lintas unsur tersebut menjadi bagian strategis dari pelaksanaan program karena mempertemukan unsur pemerintahan padukuhan, organisasi masyarakat, dan warga dalam satu ruang pembelajaran bersama. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan kolaborasi antarpihak agar program yang dilaksanakan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UIN Sunan Kalijaga, Sunarsih, S.E., M.Si., hadir sebagai narasumber sekaligus memberikan penguatan terhadap substansi pemberdayaan masyarakat. Materi pelatihan mencakup pengenalan bahan dan peralatan, teknik dasar pembentukan motif, proses pengikatan kain, teknik pewarnaan, hingga tahapan akhir untuk memperoleh motif batik jumputan. Setelah memperoleh penjelasan, peserta melakukan praktik secara langsung dengan pendampingan mahasiswa KKN pada setiap tahapan.
Pendekatan praktik langsung digunakan untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diberikan dapat dipahami sekaligus diterapkan oleh peserta. Proses tersebut juga memungkinkan terjadinya interaksi dua arah antara mahasiswa, narasumber, dan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga menjadi proses pembelajaran partisipatif yang memberikan ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi kreativitas dan mengembangkan hasil karya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Melalui arahannya, Sunarsih menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat perlu memiliki orientasi jangka panjang dan tidak berhenti pada proses transfer keterampilan.
“Pemberdayaan masyarakat sebaiknya tidak berhenti pada pemberian keterampilan, tetapi diarahkan agar masyarakat mampu mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimiliki,” ujar Sunarsih.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya dapat diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam mengadopsi, mengembangkan, dan memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh. Dalam konteks tersebut, pelatihan batik jumputan menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas masyarakat agar memiliki alternatif keterampilan yang dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi setempat.
Secara konseptual, kegiatan ini dapat dipandang sebagai bentuk pengembangan kapasitas masyarakat (community capacity building) melalui transfer pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis. Pengembangan kapasitas tersebut menjadi penting karena masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menjadi penerima manfaat, tetapi juga sebagai aktor yang memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungannya.
Keterlibatan kelompok PKK Padukuhan Klepu menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan ini. PKK memiliki posisi strategis sebagai wadah partisipasi perempuan dalam berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Melalui pelatihan batik jumputan, keterampilan kreatif dapat dikembangkan secara kolektif dan berpotensi diterapkan dalam skala rumah tangga maupun kelompok. Hal ini membuka kemungkinan bagi pengembangan kegiatan produktif yang tidak hanya memberikan manfaat keterampilan, tetapi juga dapat menjadi alternatif penguatan ekonomi keluarga.
Selain PKK, kehadiran Ibu Dukuh dan perwakilan RW memberikan dimensi kelembagaan terhadap pelaksanaan kegiatan. Dukungan dari unsur pemerintahan padukuhan menjadi penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keberlanjutan program. Sementara itu, keterlibatan warga masyarakat memperluas basis partisipasi sehingga kegiatan tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kreativitas masyarakat Padukuhan Klepu secara lebih luas.
Dari perspektif ekonomi kreatif, batik jumputan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Kreativitas dalam menentukan motif, warna, serta bentuk produk memungkinkan masyarakat menghasilkan produk yang memiliki karakteristik tersendiri. Apabila dikembangkan melalui proses produksi yang konsisten, pengemasan yang baik, serta strategi pemasaran yang tepat, keterampilan tersebut dapat diarahkan menjadi salah satu bentuk kegiatan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan juga memperkuat sinergi antara mahasiswa KKN, pemerintah padukuhan, kelompok PKK, RW, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa program pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan praktis masyarakat. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator dan pendamping, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, serta potensi untuk mengembangkan hasil kegiatan.
Bagi mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Angkatan 120, kegiatan ini juga menjadi bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dalam lingkungan akademik diupayakan untuk diterapkan dalam konteks kehidupan masyarakat melalui program yang bersifat partisipatif dan responsif terhadap kebutuhan lokal.
Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, kegiatan batik jumputan di Padukuhan Klepu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Adanya dukungan dari perangkat padukuhan, PKK, RW, warga, serta pendampingan akademik dari DPL diharapkan dapat menjadi modal sosial bagi keberlanjutan program.
Melalui program tersebut, KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan 120 berupaya mendorong masyarakat Padukuhan Klepu untuk mengenali dan mengembangkan potensi kreativitas yang dimiliki. Pelatihan batik jumputan diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman selama pelaksanaan KKN, tetapi dapat menjadi titik awal bagi pengembangan keterampilan, kreativitas, dan potensi ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan kapasitas masyarakat sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis potensi lokal di Padukuhan Klepu, Gunungkidul.