Hari ke-2 Pembekalan KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Foto bersama Pemateri Pembekalan KKN, Bapak Erwan Widyarto, S. IP dan Ibu Siti Aminah, S. Sos,I., M.Si
LP2M UIN Sunan Kalijagamenggelar hari ke-2pembekalan KKN Semesster Antara/Pendek tahun Ajaran 2020/2021 angkatan ke-105. Acara diikuti oleh 2870 mahasiswa calon peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara daring melalui Zoom Meeting dan kanal Youtube LP2M UIN Sunan Kalijaga. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, disusul hymne UIN Sunan Kalijaga. Bapak Muhrisun Afandi, M.S.W, Ph.D, selaku ketua LP2M UIN Sunan Kalijaga memberikan sambutan di awal Pembekalan KKN.
Pak Muhrisun berpesan kepada para mahasiswa agar selalu memperhatikan tahapan-tahapan yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa sebelum melaksanakan KKN. Beliau juga menyampaikan bahwa KKN adalah bagian dari proses pembelajaran (part of learning proses). Maka, calon peserta diharapkan untuk tidak terlalu berorientasi pada hasil dan menikmati setiap proses bermasyarakat saat melaksanakan KKN selama 45 hari nanti. Sebelum benar-benar turun dan berhadapan langsung dengan masyarakat, mahasiswa perlu terlebih dahulu menimbang kemampuan, baik kemampuan individual maupun kemampuan kelompoknya. Pemahaman ini penting untuk diperhatikan terutama sebelum menyusun rancangan program kerja.
Pak Muhrisun menuturkan, capaian bukanlah tujuan utama dalam KKN, proses yang darinya mahasiswa belajar lah yang menjadi inti utama KKN. Oleh karena itu, mematok dan membebani diri dengan target capaian-capaian besar sangat tidak dianjurkan, karena yang ditekankan dari kegiatan KKN adalah prosesnya (process oriented) dan sejauh mana kita bisa belajar darinya. Menurut beliau, KKN yang bernilai adalah KKN yang tidak berambisi menciptakan hal-hal besar dan mewah seperti membangun jembatan ataupun pasar, melainkan cukup menciptakan hal-hal sederhana namun inovatif dan berarti bagi masyarakat. Mengingat tema yang diusung adalah “Sustainability Engagement: KKN Berkelanjutan Berbasis Integrasi Sosio-Sains-Agama”, maka keberlanjutan program lah yang mesti lebih digalakkan mahasiswa ketika menunaikan KKN nanti.
Pada pembekalan hari ke-dua ini, hadir sebagai narasumber ahli, Bapak Erwan Widyarto, S.IP, tokoh dan pemerhati lingkungan, ketua Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) DIY, pegiat dan penggerak gerakan-gerakan peduli lingkungan dan pengelolaan samapah di DIY, serta inovator Bank Sampah Griya Sapulidi yang telah berdiri Sejak 2007. Pak Erwan memaparkan betapa isu sampah menjadi persoalan yang urgen dan kompleks di tengah masyarakat Indonesia. Tidak hanya masalah sanitasi yang memicu sumber penyakit, sampah bahkan dapat menjadi sumber masalah sosial jika tidak mendapat perhatian dan penanganan serius. Jika di rata-rata, sebanyak 0.67 kg sampah dihasilkan oleh setiap orang di Indonesia, dan sampah rumah tangga adalah penyumbang terbesarnya. Ini menjadikan Indoensia sebagai penyumbang terbesar kedua sampah di dunia. Angka yang sangat besar dan peringkat tinggi ini akan menjadi bomb waktu jika perhatian kita terhadap sampah masih setengah-setengah. Oleh karenanya, penting bagi mahasiswa untuk memperhatikan lebih serius aspek sosial dari sampah saat menjalankan KKN nanti.
Sesuai dengan tema yang diusung yakni “Sustainability Engagement”, maka isu sampah sebagai hal yang tak terhindarkan dan amat dekat dengan realitas kehidupan kita juga perlu disentuh dengan upaya-upaya inovatif. Pak Erwan menggarisbawahi pentingnya mengubah mindset kita terhadap sampah, yang dari awalnya hanya soalkumpul, angkut, lalu buang, menjadi, pilah, olah, lalu jual. Pola pikir seperti ini sangat perlu ditanamkan pada mahasiswa untuk kemudian disosiaisasikan ke masyarakat. Menurut Pak Erwan, cara masyarakat dalam mengelola sampah saat ini masih jauh dari ideal. Masih banyak yang membuang sampah sembarangan; ke laut, got, kali, dan selalu membakarnya. Sangat jarang ditemukan sampah yang dimanfaatkan dan diolah menjadi hal-hal berguna seperti mengolahnya menjadi pupuk, pakan ternak dan lain sebagainya.
Sampah, akan selalu menjadi masalah aktual yang tak pernah usai selama masih ada manusia. Oleh karena itu, Pak Erwan mengusulkan agarmahasiswa calon peserta KKNmemberikan perhatian seriuspada problem sampah untuk program kerja unggulannyananti. Aspek daur ulang pada upaya pengolahan sampah sehingga dapat memberi nilai lebih terutama nilai ekonomi pada sampah sangat sesuai dengan semangat “Sustainability Engagement” atau keberlanjutan yang diserukan tema KKN angakatan ini.
Materi ke-dua disampaikan oleh Ibu Siti Aminah, S.Sos.I, M.Si., dosen dan Kaprodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Ibu Aminah juga adalah penggagas dan inovator pemberdayaan Masyarakat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Dalam pemaparannya, Beliau menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan mahasiswa saat akan memulai KKN, di antaranya persiapan yang matang berupa indentifikasi potensi daerah lokasi KKN dengan mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak mungkin yang berguna dalam pengambilan keputusan penyusunan Rancangan Program Kerja (RPK) KKN. Setelah dibentuk, RPK juga harus didiskusikan dengan masyarakat setempat untuk mendapat masukan dan saran yang berguna dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Rembuk dengan masyarakat ini juga berguna agar program kerja yang telah disusun dalam internal kelompoktidak terlalu membebani masyarakat dalam pelaksanaannya.
Kegiatan awal seperti sowan ke tokoh masyarakat setempat, induk semang, pejabat daerah setempat, takmir masjid, ustaz, pemuda/remaja masjid, ketua RT/RW, Kepala Dukuh, dan Karang Taruna juga merupakan bekal penting untuk menjalin komunikasi dan koordinasi dalam kegiatan-kegiatan KKN yang diselenggarakan selama 45 hari ke depan. Di masa pandemi ini, meski KKN tetap dilaksanakan dengan daring dan membatasi pertemuan tatap muka, mahasiswa tetap diwajibkan untuk menjalin komunikasi dan koordinasi yang intens kepada masyarakat dan pemangku kebijakan di daerah masing-masing.
Calon peserta KKN juga diharapkan dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam perubahan dan pembangunan untuk memandirikan masyarakat dalam melanjutkan program-program ketikamasa KKN telah usai. Beliau juga mewanti-wanti akan terjadinya Social Loafing, yakni terjadinya difusi tanggung jawab disebabkan ketidak-jelasan peran dan pembagian kerja dalam satu kelompok. Solusinya tidak lain adalah menentukan kejelasan peran maisng-masing anggota kelompok di masa di awal KKN agar tanggung jawab tugas-tugas merata.
Acara pembekalan KKN UIN Sunan Kalijaga dipungkasi dengan sesi tanya jawab. Animo mahasiswa dalam bertanya dan berinteraksi menunjukkan antusiasme mereka menjelang pelaksanaan KKN nanti. (LP2M, 2021)